giovedì 2 settembre 2010

#Secangkir Teh

(sambungan Chapter IV)
--------------------------
Kara terguncang di tempatnya sendiri. Dia memilih menunduk dengan bahu yang gemetar menahan tangisnya yang akan meledak. Sedangkan Galih duduk lebih tegak, sedikit terkejut. Matanya menatap dengan gelisah pada gadis yang terguncang di depannya tersebut.

"Aku tidak bisa makan ketika kamu mengabari sudah ada di Jakarta. Sudah lebih dari lima tahun kita tidak bertemu. Sejak kamu menikah dan memutuskan untuk pindah ke Auckland bersamanya. Dipikiranku terlalu banyak kenangan. Kenangan yang selama ini membuat aku ingin jauh," jelas Kara. "Kamu mungkin menganggapku adik. Tapi hingga saat ini aku masih menganggapmu lebih."

Galih masih terdiam di tempatnya. Aku melihat ponselnya bergetar di meja, tetapi dia tetap fokus menatap Kara. Mungkinkah ini alter ego dari gadis ini? Sudah terlalu banyak alter ego yang aku lihat darinya.

"Aku memilih untuk tidak makan. Benar. Aku memilih untuk jatuh saja pingsan di hadapanmu. Atau saat aku sedang berjalan jauh ke sini. Mungkin saat itu orang-orang rumah sakit akan menghubungi ayahku, dan aku sudah berpesan pada ayahku agar menghubungimu. Semua sudah dirancang. Yaaaaahhh dan ternyata ketika kamu ada di sini aku tidak pingsan sama sekali. Aku hanya berusaha untuk terlihat sakit, seperti dulu. Ketika pernikahan kalian nyaris batal karena aku," lanjut Kara.

Aku nyaris tidak bisa berpikir. Aku pernah mendengar bahwa Kara memilih untuk tidak mencintai. Menjauhi cinta. Bahkan seperti tidak ingin menjadi milik lelaki manapun. Namun hari ini aku melihat dia seperti memohon belas kasihan dan cinta dari seorang laki-laki yang telah beristri.

"Aku tahu meminta seseorang yang telah beristri untuk mencintai diriku itu salah. Aku tahu menjadi penghancur rumah tangga orang itu juga salah. Aku tahu aku tahu bahkan aku tahu rasa sakitnya sebuah keluarga yang bercerai. Tapi aku bahkan tidak dapat menyangkal perasaanku sendiri. Di sini rasanya sakit, Galih." Kali ini air matanya benar-benar jatuh, tapi dia belum berani menengadah.

"Ka... Kara..."

"Saat kau bertemu Alin semua waktumu habis buat dia. Aku cemburu hingga ingin membunuhnya. Dia menganggapku seperti seorang anak perempuan manis yang tinggal di rumah sebelah. Ya, aku memang hanya tetanggamu. Tapi lebih dari itu aku mencintaimu. Dan tahukah ketika aku memilih untuk hidup tanpa cinta karena sakit hati ini? Aku nyaris mati rasa dan rasanya menyiksa."

"Realistis, Kara..."

"Apa?!!!" potong Kara. "Aku terlalu realistis, Galih. Aku seperti gadis yang diberi harapan dan diberi sesuatu yang berharga, lalu diinjak, dan dibuang, dihempaskan lalu dilupakan. Dan pikirku semua lelaki sama, kecuali ayahku. Tapi aku tetap menunggumu, Galih. Menunggumu seakan kau akan menceraikan Alin, seakan suatu hari kamu akan kembali menjemputku, atau sekedar menjadikanku selir hatimu. Dan ketika kamu pulang ke Jakarta aku seperti ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu."

"Tapi aku sadar itu semua tidak akan pernah terjadi...," dengus Kara. "Aku tidak ingin ada satupun rumah tangga yang kukenal lebur seperti rumah tangga ayah dan ibuku."

Galih mendekatkan tubuhnya ke arah Kara yang kini menangis dengan tangan menutupi wajahnya yang menunduk. Perlahan tangannya mengapai helaian rambut panjang Kara. Mengelusnya pelan di bagian atas kepalanya.

"Setiap orang berkata untuk maju, mengapa tidak maju?" tanya Galih.

Kara hanya menangis.

"Aku tahu itu pilihanmu. Tapi menunggu aku bukanlah pilihan yang tepat. Meninggalkan cinta juga bukan pilihan yang tepat. Satu-satunya yang membuat dirimu terpuruk sampai saat ini adalah karena kamu memilih untuk membiarkan cahayamu redup. Digerogoti rasa sakitmu sendiri dan alasanmu untuk tetap berada di garis yang sama bertahun-tahun.

"Mungkin setelah pertemuan kita hari ini kamu pun akan tetap seperti itu. Setiap orang ditakdirkan memiliki pasangannya masing-masing. Alin seperti permata bagiku, dia segalanya bagiku, dia ibu dari anak-anakku, dia pilihan Tuhan bagiku...aku tahu itu. Aku mencintainya dari dulu aku tahu itu. Dan aku tahu setiap hal kecil juga yang kau lakukan untukku Kara. Kamu seperti bintang kecil yang menghiburku di setiap malam aku mengalami kesedihan, sumber semangatku ketika aku merasa redup, dan temanku adik kecilku."

Tahu apa? Aku merasa itu puisi yang memang sudah dibuatnya sejak dulu. Namun ketika mendengarnya, rasanya dia memang menggambarkan perasaan yang sebenarnya dengan perumpamaan yang tepat.

"Kau tahu mengapa aku ingin bertemu denganmu, Kara? Aku ingin bicara... Dan sedari tadi kita belum memulai pembicaraan inti kita. Bisakah aku mulai sekarang?"

Kara membuka wajahnya. Dia mengangguk. "Jadi apa?"

---------------------------------
bersambung...

rekam malam

kan kurekam malamku
sekali lagi pada rasa rindu
bermuara pada pelukmu
biarkan bintang menjadi mata lensa di balik selubung awan mendung
karena cukup angin yang dengar setiap bisik cintamu
lagi bila ada satu sisi di ranjangmu,
beri aku ruang untuk ku isi
kan kuhangatkan dinginmu

rekam malam
semua tersimpan rapat pada selaput alam
berkawan bayang gelap
berkasih harummu yang membekas dan kusesap

#Secangkir Teh

(sambungan Chapter IV)

------------------------------
Pria itu melempar senyumnya yang ternyata memiliki sihir. Wajahnya jauh lebih tampan dengan senyum tersebut. Dan entah mengapa di saat aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari pria itu, Kara memilih untuk diam saja dan tetap memandang cangkirnya.

"Baik," jawab Kara. "Bang Galih mau pesan minum apa? Nanti saya pesankan..."

"Biar saya sendiri saja yang pesan. Kamu di sini saja."

Dan pria itu datang ke meja barku. Dia mengeluarkan suaranya yang jauh lebih merdu dari yang kudengar dari kejauhan. Matanya coklat pekat. Ini pertama kalinya aku merasa deg-degan berdiri di balik meja bar. Dia memesan segelas espresso. Aku menyajikan espresso dengan kikuk. Sesekali aku mencuri pandang ke arah meja Kara. Dia masih duduk sendiri. Sementara lawan bicaranya menunggu di kasir untuk membayar.

Wajah gadis itu sendu. Dia lebih pucat dari saat dia masuk ke kafe ini. Dia sempat terpaku sesaat memandang tubuh pria yang dipanggilnya Bang Galih. Dan kembali terpaku menatap cangkirnya ketika aku tiba menaruh espresso di mejanya. Aku berbalik dan kembali ke balik meja bar. Pria itu kembali duduk di kursinya menyeruput espresso.

"Bagaimana kabar Mbak Alin?" tanya Kara sembari dia memainkan jemarinya pada tubir cangkir.

"Kondisinya sangat baik. Alin sedang mengandung anak kedua kami. Sudah enam bulan. Itu mengapa aku tidak membawanya ke Jakarta kali ini lagipula aku hanya pulang selama tiga hari. Besok aku pulang," papar Galih.

"Oh... Sudah sebesar apa Gamal sekarang?"

"Dia sudah tiga tahun. Kamu harus lihat betapa lincahnya dia sekarang, Kara. Anak laki-laki selalu jadi jagoan bukan."

"Ya seperti ayahnya...," dukung Kara. Akhirnya dia menengadah menatap Galih dan tertawa hambar.

Galih sedikit tersentak dia menyentuh pipi Kara dan mengelusnya pelan. Membuat Kara tersentak seperti mendapat setruman listrik. "Kamu pasti tidak makan lagi. Pucat sekali, dek. Pokoknya sekarang harus makan!"

Kara menarik kepalanya menjauh dari tangan Galih. "Ga aahhh bang. Kita ketemuan di sini bukan untuk makan-makan kan. Untuk bicara, seperti kata abang."

"Tapi aku tidak pernah bisa memaafkan diriku jika kejadian yang dulu terulang lagi," ujar Galih dia nyaris seperti membentak.

Kara mendengus di tempatnya. Menunduk dan berkata, "Aku masih mencintaimu...," ujarnya pelan.
------------------------------------
bersambung...

Kata pada Jendela

*) aku masih saja memuja kata. ketika aku berkasih dengamu. ketika aku bercinta denganmu. ketika aku menatapmu. di dalam sana aku menemukan banyak kata yang tidak mampu diujar hanya dengan satu kali sentuh satu kali bicara satu kali mendengar dan satu kali kecupan. karena kata kurangkai seperti ribuan picisan untuk dilayangkan atas pujian keindahanmu...

*) malam melarut di tubir jendela. ketika gelap merayang menghadang senja. menyembunyikan kemilau sinar matahari dan embun yang merayap pun membekas menyublim. Rasanya dingin...

*) jendelaku seakan membeku. bekerak embun yang dikirimkan hujan dan badai di luar sana. aku jauh melihat... mendamba kau di luar sana dengan senyummu tatapmu hadiahmu dan cintamu. seakan-akan tak ada hari lagi yang dapat kuhabiskan denganmu

*) dan perlahan jari-jariku bermain... bermain pada kaki-kaki jendela. bergerak pada badan tubuhnya yang terbuat dari kaca. aku tidak peduli betapa dinginnya menusuk tulang jari-jariku. biar kaku saja dibuatnya. karena aku sudah mati rasa. rasaku hanya untuk cinta.



*) dan kata-kata merambah menjalar di sisi-sisi badan kacanya membentuk sebuah frasa. mereka terkadang datang sebagai pujian. yang sudah kukatakan hanya untuk dirimu...

*) dan kata-kata pada jendela itu bertulis "I miss you"

domenica 29 agosto 2010

Alla fine di Agosto...

seperti roll cerita yang termasuk dalam skenario kehidupan. wah rasanya kembali lagi saya ada di perputaran roda. sore ini di hari Minggu tanggal 29 Agustus 2010, di mana playlist memperdendangkan Carnival (Adhitia Sofyan) dengan nada ballad yang mendayu-dayu memanjakan telinga saya. Lelah sumpah lelah.

Hari ini otak saya didera ribuan pertanyaan dengan pilihan berganda dan hubungan sebab akibat. mau mati ga tuh!!! dalam waktu 2 jam harus menyelesaikan 105 soal yang biadab-biadab. dan bentar lagi wah bentar lagi bentar lagi gue bakal ngelaluin TO TO selanjutnya sampai pada akhirnya gue menghadapi yang namanya SIMAK UI, yang namanya UN, yang namanya UAS, sampai yang namanya, SNMPTN (semoga ga perlu SNMPTN, SIMAK AJA CUKUP YA ALLAH amiiinn).

Tiba-tiba saya kepikiran banyak hal.

--oke sekarang playlist saya memutar After The Rain (still Adhitia Sofyan)--

Waktu saya di Gramedia bareng sama Gery sore ini saya melototin rak-rak buku yang keren-keren itu. Banyak banget buku dengan cover dan sinopsis keren terpampang di rak best seller. Gue mikir, kapan bisa ya salah satu buku karangan gue terpampang di sana. Dan sambil tersenyum mungkin suatu hari nanti gue bakal mengelus-ngelus covernya. Wah puas banget kali. Sampai akhir Agustus ini itu masih jadi cita-cita saya...

--masih Adhitia Sofyan's, gila ya enak banget di dengerin senja begini--

Saya masih berada di atas motor menatap ke jalanan kota pukul lima sore. Rame seperti biasa. Dan pikiran gue berkelana. Ga tahu kenapa perasaan gue tenang banget. Ga tahu apa yang akan terjadi dengan jalanan ini satu, tiga, lima, sepuluh tahun lagi. Yang pasti detik itu rasanya gue pengen meluk Gery (tapi sayangnya gajadi inget bulan puasa). apa suatu hari nanti gue masih bisa jalan-jalan ga jelas di daerah Bearland, Matraman bareng ini anak naik motor ya? Pasti bakal banyak hal yang udah berubah. Tapi cuma satu hal yang sampai akhir Agustus ini gue harap ga akan pernah berubah sampai kapanpun, perasaan memiliki dan mencintai seseorang yang ada di hadapan gue, perasaan ke Gery.

Makin masuk daerah pisangan gue masih diem. Perjalanan pulang hari ini lebih banyak bisu dibanding bicara. Ada satu pikiran, apa hari ini suratnya dibawa ya? Semoga ga telat lagi. Yaaaahhh tapi ternyata harus telat. Satu hal yang menggaung-gaung dalam pikiran gue yang udah entah ke mana tadi di jalan, kalau kita udah nikah saya bakal nemuin suratnya di mana ya? Di balik piring saat sarapan di meja makankah? Di atas bantal atau selimut ketika hendak dibereskankah? Ditempel di atas kulkaskah? Dititipkan pada taya atau nada kah? Atau tetap dia yang memberikan dengan tangannya sendiri di malam hari? Sampai akhir Agustus ini gue masih merasa saat-saat di hari Jumat dengan surat dan senyumnya adalah hal yang paling manis dan romantis....

--playlist gue berganti kini The Trees And The Wild--

Ini mungkin sentuhan terakhir post ini. Gue mungkin akan merindukan banyak hal dari masa-masa SMA gue satu hari nanti. Masa-masa penuh kerancuan yang berbuah kenangan manis. Dan saya menjadikan seluruh lagu TTATW dalam album Rasuk sebagai soundtrack masa SMA gue. Lagu yang diperdendangkan, dinyanyikan, dielu-eluka, dan disukai gue, pacar gue, dan teman-teman gue. Sampai akhir Agustus ini gue masih teringat-ingat euforia DILIPAT yang dipegang Aji. Dan sampai akhir Agustus ini saya masih akan terus mengumpulkan mosaik-mosaik manis untuk dikenang di hari tua nanti.

---di akhir Agustus ini gue siap mewujudkan segala mimpi, melipat kenangan dan menyimpannya dalam kotak memori, menjaga anugerah dan hadiah yang telah diberi dan dimiliki--

sabato 28 agosto 2010

Kemelut

kemelut tidak pernah lari jauh-jauh
kaki-kakinya masih bergerak-gerak di sekitar sini
di dalam palung hati yang terluka dalam
di dalam rongga pikiran yang bercabang
dan di dalam lubang telinga yang hambar mendengar pujian
aku bertanya-tanya mengapa kemelut tak mau pergi
mengapa dia menjadi dilema?
mengapa dia memilih menyublim?
menyisakan bekas-bekas penggoyahan
apa obat dari kemelut ini?

__________________________________

sampai saat ini kemelut menjadi penyakit dalam jiwa tak sehat. sampai saat ini kemelut menjadi musuh bagi para pecinta. dan sampai saat aku membuang kemelut itu jauh-jauh dalam sakit hatiku, menggantinya dengan yang baru, yang tak berdilema, yang tak berpilihan.

hanya karena mencintai kemelut itu pergi.
mungkinkah itu obatnya...?

venerdì 27 agosto 2010

#Secangkir Teh

CHAPTER IV

Hari terus berjalan, dan aku seperti kerasukan setan setiap pulang sekolah. Motivasiku untuk bekerja di kafe berubah dari mengisi waktu luang dan menambah uang jajan menjadi menemukan cerita baru. Selama empat bulan ini aku sudah duduk di balik meja bar bersama teman kerjaku, Lila menyaksikan bebagai hal yang terjadi di kafe ini.

Urutan rutinitas yang aku lalui setiap hari adalah seperti ini; bangun, pergi ke sekolah, bel pulang masuk ke angkutan umum, berhenti di kafe, ganti baju, siap-siap di belakang meja bar, dan terakhir menunggu pukul 16.20. Rutinitas yang terlihat sangat membosankan dan terus-terusan terjadi seperti rel kereta yang tidak ada ujungnya. Berputar seperti siklus. Tapi perlu kutambahkan dengan kapital keseluruhan bahwa aku MENUNGGU PELANGGAN BERNAMA KARA, MENYAJIKAN SECANGKIR TEH UNTUKNYA, dan MENYAKSIKAN DIA BERBICARA DENGAN LAWAN BICARANYA.

Aku telah siap di balik meja bar minuman. Tanganku mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah, menatap ke arah jam dinding yang terus saja memutarkan jarumnya. Lila menyabetku dengan serbet sengaja sambil terkekeh, "Lo tuh kayak nungguin cowok lo yang dateng ngejemput tahu ga."

Aku membalas dengan mencibir. Setelah adegan emosional yang berujung bahagia tersebut aku menyaksikan lebih banyak kejadian standar. Dia berbicara dengan salah satu teman kuliahnya yang suka banget ngomongin cowok. Dia berbicara dengan salah satu teman lamanya yang suka sekali menggosip dan ngomong "boooo". Dia berbicara dengan salah seorang temannya sambil mengerjakan tugas kuliah. Yah dan begitu seterusnya. Pertanyaan dalam benakku, apa hari ini akan ada kejutan lagi?

Mungkin ada.

16.20
Meja yang telah di reservasi itu masih kosong. Aku nyaris mengutuk hariku. Teramat sangat membosankan menjalani rutinitas biasa dan apa yang aku tunggu-tunggu hari ini menjadi omong kosong. Ketika aku nyaris lengah berjalan ke arah Lila, aku mendengar pintu kafe terayun. Seorang gadis dengan wajah yang tidak asing lagi masuk. Kulitnya putih memucat, bibirnya kering terkatup putih. Kara sedang sakit?

Dia duduk di meja yang telah direservasinya. Lila berbisik sesuatu padaku, "Lo kayak orang jatuh cinta tau ga, Tan! Lesbi dasar!" Dan dengan tegas aku akan mencubitnya. Perlu di garis bawah, aku masih menyukai laki-laki.

Aku menunggunya cukup lama sampai akhirnya dia berjalan sendiri ke arahku dengan tampang letih. "Secangkir teh," ujarnya.

Aku memperhatikan gerak-geriknya. Ketika dia mengambil bill di tanganku. Ketika dia membayarnya di meja kasir. Dan ketika dia duduk kembali sambil menyeruput secangkir teh yang telah aku sajikan di mejanya. Kali ini gerakannya lambat sekali. Nyaris tidak bersemangat seperti biasanya.

17.00
Seorang pria berusia tidak jauh dari Kara masuk ke dalam kafe. Dia memakai kemeja necis dan celana bahan warna hitam. Sepatunya mengkilap. Rambutnya dibuat cepak pendek. Dan dia tampan.

Pria itu duduk di depan Kara. Menatapnya tenang lewat mata coklatnya yang penuh perhatian. Dan dia berkata, "Apakabar, dek?"

----------------------------------
bersambung...